Ketua KPI Cabang Belawan berharap ada Pertimbangan Terhadap 6 ABK Korban Sindikat Jaringan Narkoba Yang di Putus Hukuman Mati

banner 468x60

BELAWAN – Rudi Hartono SH, selaku ketua Kesatuan Pelaut Indonesia ( KPI ) Cabang Belawan Kota Madia Medan Provinsi Sumatra Utara angkat bicara,berharap tuntutan Hukuman mati patu di pertimbagkanterhadap ke enam terdakwa Anak Buah Kapal ( ABK ) tersebut,dalam hal Keterkaitan tersangka dianggap ikut serta melakukan penyeludupan hampir 2 ton Narkoba jenis Sabu melalui jalur laut dengan menggunakan Kapak Motor (KM) Sea Dragon Terawa Jumat Tgl ( 6/2/2026).

Baca Juga :  Pulau Pengikik Harus Dikembalikan ke Pangkuan Kalimantan Barat: Kontrak Kolonial 1857 Tidak Sah sebagai Dasar Hukum Penegasan Wilayah

Ketua KPI Cabang Belawan Rudi Hartono ketika mendengarkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum ( JPU ) Pengadilan Negri PN Batam terhadap ke enam terdakwa dituntut Hukuman mati yang terkesan dianggap tidak objektip ungkap Rudi Hartono

Lebih lanjut Rudi Hartono menyampaikan, bagi Anak Buah Kapal ( ABK ) yang merupakan bagian pekerja atas perintah lalu berlayar dengan kapal tersebut yang ahirnya menjadi korban sindikat jaringan Narkoba di tuntut Hukuman mati, semoga keputusan ini bisa di pertimbangan oleh Presiden Repoblik Indonesia ( Prabowo Subianto ) melalui Hakim Pengadilan Negri ( PN ) Batam

Baca Juga :  Antrian mobil pengantri solar SPBU 64. 781. 18 sungai jawi semakin tidak terkendali LPK-RI desak  Walikota tertibkan dengan Perwako

Tuntutan dibacakan JPU dalam sidang di PN Batam (Kamis, 5 Februari 2026) yang berlangsung agenda pembacaan surat tuntutan terhadap seluruh terdakwa yang dinilai terlibat aktif dalam jaringan narkotika lintas negara.

“Lanjut Rudi Hartono SH, bahwa ke enam terdakwa merupakan korban pekerja dan semoga seluruh terdakwa mendapatkan keringan hukuman oleh JPU dan Hakim PN Batam”. Sebutnya

Baca Juga :  Kapolres Pelabuhan Belawan Pimpin Sertijab Kabag Ops dan Pelantikan Kabag Log

Adapun ke enam terdakwa di antaranya dua warga Thailand Weerepat Phongwan alias Mr Pong dan Teerapong Lekpradube dan empat warga Indonesia masing masing Fandi Ramadhan, Richard Halomoan, Leo Candra Samosir, Hasiholan Samosir.

Pos terkait