Karya Tulis Wartawan Memenuhi Unsur Budaya, Dapat Meningkatkan Literasi Nasional

banner 468x60

Bekasi, Realita.online – Di tengah derasnya arus informasi digital, masyarakat perlu diingatkan kembali bahwa karya tulis merupakan salah satu bentuk budaya yang tumbuh bersama peradaban manusia.

Pemahaman ini penting agar publik tidak memandang menulis hanya sebagai tugas sekolah atau pekerjaan, melainkan sebagai warisan budaya yang perlu dijaga dan dikembangkan, Senin 18/5/2025.

Budaya adalah cara hidup yang berkembang dalam masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sama seperti seni tari, musik, dan kerajinan, karya tulis juga lahir dari proses berpikir, merasakan, dan merekam pengalaman manusia.

“Karya tulis menyimpan cara berpikir, nilai, dan identitas suatu bangsa. Ketika kita menulis esai, cerpen, opini, bahkan catatan harian, kita sedang mempraktikkan budaya,”

Baca Juga :  Pembongkaran Pagar disisi Sungai Kampung Pulo Timaha Babelan, Sebagai Tidak Lanjut Atas Laporan Warga

1. Karya tulis jurnalistik merekam zaman. Berita, reportase, opini, dan feature yang ditulis wartawan itu dokumen hidup tentang cara hidup, konflik, nilai, dan peristiwa di masyarakat pada masa tertentu.

Contoh: tulisan Pramoedya Ananta Toer, Rosihan Anwar, atau tentang reformasi 1998. Itu sekarang jadi rujukan sejarah dan budaya.

2. Memenuhi unsur budaya,

Budaya = cara hidup, kebiasaan, nilai, dan ekspresi yang diwariskan dalam masyarakat. Karya tulis wartawan memenuhi itu karena: Ekspresi: Pakai bahasa, gaya, dan sudut pandang khas. Mengandung nilai kebebasan pers, keberimbangan, dan kepentingan publik. Diarsipkan di perpustakaan, museum pers, dan jadi bahan ajar.

Baca Juga :  Wakil Ketua DPRD Gelar Turnamen Catur Pokja Wartawan

3. Dilindungi sebagai karya intelektual. Di UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, karya tulis jurnalistik masuk kategori “ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra”.

Artinya negara mengakui itu sebagai produk budaya intelektual.

4. Bedanya dengan karya tulis lain. Kalau karya sastra fokus ke estetika, karya ilmiah fokus ke kebenaran metodologis, maka karya tulis wartawan fokus ke *fakta + kepentingan publik + konteks sosial. Tapi tetap 1 rumpun: sama-sama produk budaya tulis.

Baca Juga :  Mustakim, SH: Pemerintah Harus Punya Grand Design Pembangunan yang Jelas dan Tepat Sasaran

Karya tulis Hasil cipta manusia lewat bahasa & tulisan. Jadi masuk ke unsur budaya “sistem pengetahuan” dan “kesenian”.

Contoh: Naskah kuno seperti Nagarakretagama, Serat Centhini, novel, Laskar Pelangi, puisi, jurnal ilmiah, bahkan undang-undang. Semuanya produk budaya tulis.

UNESCO juga mengakui *warisan budaya takbenda* mencakup tradisi lisan, naskah kuno, dan praktik kepenulisan.

Di Indonesia, UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan secara eksplisit menyebut manuskrip, tradisi lisan, dan pengetahuan tradisional. sebagai objek pemajuan kebudayaan.

Pos terkait