Proyek P3-TGAI di Panyabungan Utara Diduga Asal Jadi, Camat Tak Tahu-Menahu dan Transparansi

Proyek Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) tahun anggaran 2025 di Kecamatan Panyabungan Utara, Mandailing Natal
banner 468x60

Mandailing Natal, Sumut
Proyek Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) tahun anggaran 2025 di Kecamatan Panyabungan Utara, Mandailing Natal, diduga dikerjakan asal-asalan.

Masyarakat menyoroti mutu pekerjaan yang dianggap jauh dari standar teknis. Penggunaan semen disebut hanya satu sak untuk delapan adukan, sehingga menyerupai pasir biasa. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran proyek akan cepat rusak.

Baca Juga :  Harga Tanah di Jakarta Tembus Rp 300 Juta per Meter, SCBD Jadi yang Termahal

Ironisnya, Camat Panyabungan Utara saat dikonfirmasi terkait pekerjaan di Desa Mompang Julu mengaku tidak mengetahui keberadaan proyek tersebut.
“Proyek apa ini, adinda? Saya tidak tahu. Padahal, sekecil jarum pun di wilayah kecamatan seharusnya diketahui, apalagi kalau ini proyek yang menggunakan uang negara,” ujarnya heran.

Baca Juga :  Pukat Trol Jadi Pukat JHIB Diduga Modus Oknum Pejabat KKP Yang Bekerja sama Dengan Pengusaha Kapal Ikan Untuk Mendapatkan Ijin

Selain kualitas bangunan yang diragukan, proyek irigasi tersebut juga tidak memasang papan nama kegiatan (plank proyek). Padahal plank proyek wajib untuk menjamin keterbukaan informasi publik, mulai dari nilai kontrak, sumber anggaran, hingga pelaksana kegiatan.

Minimnya transparansi dan lemahnya pengawasan membuat masyarakat menduga P3-TGAI hanya sebatas formalitas belaka. Padahal, program ini dirancang untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui pengelolaan irigasi yang lebih baik.

Baca Juga :  Polresta Pontianak Bersinergi dengan Universitas PGRI Kota, Berbagi Takjil dan Paket Sembako kepada Masyarakat

Masyarakat mendesak aparat penegak hukum, termasuk kejaksaan, kepolisian, serta inspektorat, agar segera turun meninjau lokasi. Tanpa langkah tegas, proyek irigasi yang menelan anggaran negara tersebut dikhawatirkan hanya menambah catatan kelam pembangunan infrastruktur di Mandailing Natal.

Pos terkait