Silaturahmi Sejuta Cerita: Pasar Pusaka Antik-Mahar-Tempur Padati Base Camp PPRTN-PAPAG Bekasi

banner 468x60

Bekasi, realita.onlineBase Camp PPRTN Bekasi penuh sesak. Ratusan pecinta pusaka, barang antik, dan batu cincin tumpah ruah di kediaman Haji Nur Ali, Ketua Pelestari Pusaka Rawa Banteng, RT 01 RW 13 Desa Cibuntu, Jl. Wates 307, Mekarwangi, Kec. Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat 17530, Minggu 5 Juli 2026.

Komunitas PPRTN – Pelestari Pisau Raut Tua Nusantara, bersama PAPAG – Pelestarian Pusaka Antik Gemstone sukses menggelar Pasar Pusaka, bertema _“Silaturahmi Sejuta Cerita Warisan Nusantara”_ dari pukul 08.00 WIB hingga 24.00 WIB.

Seharian Penuh, Kolektor Se-Jabodetabek Turun Gunung: Sejak pagi, para kolektor sudah membawa “amunisi” terbaiknya. Deretan pusaka, batu cincin, mahar, tempur, tute, hingga Batu Pandan Merah terpajang rapi di sepanjang lapak.

Baca Juga :  Komisi Informasi Provinsi Jawa Barat Gelar Pemeriksaan Awal Sengketa Informasi Publik Terhadap Enam Pemerintah Desa di Kabupaten Bekasi

Suasana pasar antik terasa kental, ditambah kopi dan air panas gratis dari panitia yang bikin obrolan antar kolektor makin cair.

“Silakan hadir, bebas untuk siapa saja. Mari kita kumpul untuk menambah erat tali silaturahmi,” ujar panitia di lokasi. Ajakan itu terbukti. Lapak penuh, cerita pun mengalir.

Lebih dari Jual-Beli, Ini Ruang Jaga Budaya:

Bagi PPRTN, PAPAG, dan komunitas pelestari lainnya, Pasar Pusaka bukan sekadar bursa tukar-mahar. Ini jadi ruang belajar bersama. Di sini kolektor tua dan muda saling bertukar ilmu, membedah sejarah, dan filosofi di balik tiap pusaka warisan Nusantara.

Baca Juga :  Menko Polkam RI Pimpin Penyerahan Bantuan dan Tinjau Langsung Pengungsian di Pidie Jaya

Rombongan PAPAG Sukatani juga ikut serta dalam kegiatan ini. Kehadiran mereka menjadi wujud nyata untuk melestarikan dan membangkitkan kembali marwah leluhur di wilayah Sukatani dan sekitarnya.

Turut hadir pula Pelestari Golok Pedang Sepuh Nusantara (PGPSN), menambah kekayaan wawasan tentang senjata tradisional warisan leluhur yang dipamerkan dan dibahas bersama para kolektor.

Diskusi “tempur” antar kolektor pun pecah. Batu langka diuji, pusaka tua dibahas silsilahnya. Mbah Damin, sesepuh pelestari, ikut hadir memberi wawasan dan doa restu untuk kegiatan pelestarian budaya leluhur.

Baca Juga :  Apresiasi Kepada Aparat dalam Pengungkapan Penyelundupan 30 Ton Bawang Bombay Ilegal: Lemahnya Pengawasan Perbatasan Kalbar dan Pentingnya Penegakan Regulasi

Komitmen Rutin Jaga Warisan Leluhur:

Antusiasme tinggi ini jadi sinyal kuat bahwa budaya pusaka masih hidup di Bekasi. Panitia berharap Pasar Pusaka bisa digelar rutin sebagai upaya nyata melestarikan warisan leluhur dan merapatkan barisan komunitas pecinta budaya di Rawa Banteng dan sekitarnya.

“NB: Bawa amunisi masing-masing seperti pusaka, batu cincin, dan lain-lain,”_ pesan panitia sebelum acara. Dan terbukti, Pasar Pusaka 2026 penuh warna, penuh cerita.

Catatan Redaksi: Berita ini disusun berdasarkan pantauan langsung dan undangan resmi PPRTN Bekasi. Untuk informasi agenda Pasar Pusaka selanjutnya, hubungi pengurus PPRTN Bekasi.

Pos terkait